Selasa, 07 September 2010
Senin, 14 September 2009 22:15

Dikotak Selagi Sakit

(1 vote)

Kotak itu mari sebut saja kamar, iyalah seperti itu. Tapi bisa juga tidak seperti itu, karena ada orang-orang yang menyebutkan itu kost-an, kontrakan ataupun terserah dia yaitu temen saya jabir menyebutnya apartemen. Kotak itu semacam ruang, dibatasi empat buah dinding yang entah keropos atau tidak saya tidak tau karena tidak saya cek, kamu mau cek? Silakan datang ke sini tapi tidak akan saya bayar karena memang saya tidak perlu tau.

 

Di kotak itu ada televisi, dispenser, meja, piring, bangkai kecoa, baju kotor, sendok, garpu, lemari, nasi padang yang belum dimakan, si lili dan nina hape saya,selimut, bantal, guling, kasur, jendela, pintu, si AI komputer saya yang tanpa monitor karena monitornya rusak sama indra yang sudah sarjana, saykoji di tv saat ini saya tulis, banyaklah barang lainnya lagi karena tidak akan sangat etis kalo saya tulis disini semuanya.

Saya itu yang punya kamar, saya yang berkulit sawo matang, berambut keriting, serba berkecukupan dan masih menyembah Tuhan juga minggu sebelumnya pergi ke kamar mandi untuk acara buang air kecil. Saya juga yang dikamar sudah dua hari tidak kemana-mana bukan karena ingin tapi karena harus, harus bukan karena perlu juga tapi karena tidak bisa, tidak bisa bukan karena haram tapi karena saya sakit. Iya saya sakit, setidaknya seperti itulah yang saya rasakan.

Seperti apa? Seperti hidung saya sedang mangadakan semacam lomba untuk ingus, lomba lari dimana siapa ingus yang cepat keluar dari hidung saya itu ingus yang menjadi pemenang. Ada yang lebih eksotis lagi, entah apa itu yang dengan senang hati dan sengaja membuat saya menjadi pusing, kepala saya yang pusing bukan tubuh, saya kok belum merasakan bagaimana rasanya kalo tubuh yang pusing. Tisu demi tisu saya ambil dari tempatnya yang berwarna pink di atas tv dan disebelah antene-nya, tentu antene tv bukan antene tisu. Saya singsringkan (apalah itu namanya) sesering sekali saya punya hidung kepada tisu yang saya ambil dan menyebabkan tisunya menjadi belepotan ingus dan kamar saya menjadi berserakan tisu banyak sekali.

Jika saya sedang malas dan bosan membuang ingus kepada tisu, saya lebih memilih membuang ingus di wc daripada membuang ingus di kamar orang lain. Taulah kenapa karena itu pasti akan menyebabkan orang lain marah dan biar supaya bersih juga. Semoga dengan jika saya bersih maka sebab itu saya jadi beriman, karena kata gambar tempel di angkot yang entah kapan saya lihat, ada tulisan yang isinya adalah kebersihan sebagian dari iman.

Semoga saja kamu tau kalo orang sakit itu menderita, oh saya jadi tidak bisa enak tidur, tidak bisa enak merokok, tidak bisa enak makan nasi, tidak bisa enak makan tempe mendoan, tidak bisa enak makan seafood, tidak bisa makan di restoran mahal, bukan karena tidak punya uang tapi karena perginya juga bagaimana saya tidak kuat, tidak bisa tidur pulas juga atau mimpi yang jorok-jorok.

Inipun saya, saya yang sakit dan indahnya setiap saya sakit saya selalu mengingat masa-masa dikala saya sehat dan bersyukur sekali kepada tuhan yang saya sembah. Itu bukan berarti diwaktu saya sembuh saya tidak ingat, tapi seperti lupa lebih mendominasi. Begitulah manusia, kadang jarang sekali bersyukur, menganggap hal biasa itu biasa. Saat bisa melihat malah melihat yang tidak baik-baik, lalu sekiranya menyesal nanti apabila sesuatu yang terjadi dan tiba-tiba menyebabkan menjadi tidak bisa melihat lagi. Begitu jugalah manusia, sering takabur dan merasa sombong, dengan wajah-nya yang rupawan dia menghujat dan beri-beri komentar tentang wajah orang lain atau menggunakan kerupawanannya untuk hal-hal tercela, seperti juga bagaimana mungkin mereka lupa kalo mereka pasti tua dan padahal isi kerupawanan-nya itu adalahsama saja yaitu tubuh yang terdiri dari daging , usus, otot, empedu, ati, ampela dan tulang belulang.

Oh iya saya jadi ingat kemarin-kemarin ada gempa, tapi lupa tepat tanggalnya sedang tanggal berapa. Lucu saya baca-baca status-status facebook dan twitter orang-orang, yang biasanya maki-maki jadi mohon-mohon ampun, yang biasa sebut-sebut binatang jadi sebut-sebut nama tuhan, yang biasa berkeluh kesah jadi pada-pada bersyukur dan yang tidak online pasti ya tidak ganti status, mana bisa ganti status kalo tidak online.

Tapi begitulah manusia dan begitulah saya juga, saya yang seperti itu dan juga seperti inilah saya yang tulis-tulis ini. Yang sedang sakit dan merindukan sehat, merindukan meroko, merindukan lari-lari dikamar, joged-joged tidak jelas dan juga rindu itu kembali bekerja dan kembali sibuk pontang-panting cari ilmu dan uang.

Hehe, dan terima kasih untuk yoga yang bawain saya coklat silverqueen dan susu bantal, meski pabalik letah karena susu bantal-nya diambil kembali oleh dia.

Daus Gonia, Bandung selagi sakit di bulan ramadhan tahun 2009 .

Last modified on Selasa, 15 September 2009 05:22
Daus Gonia

Daus Gonia

Iya ini saya. Seorang keturunan manusia yang juga berarti saya adalah manusia. Tetapi Manusia yang sedang belajar menulis tepatnya. Berhitung tidak, sudah tidak perlu belajar. sudah pintar.

Website: kihadjartheywanttorock.com E-mail: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
More in this category: « Bandung dikala mau ke senja

1 comments

  • Den Hanafi Jumat, 16 Juli 2010 15:20 posted by Den Hanafi Comment Link

    sabenernamah sih biasa. cuma rarieut doang kan us. tapi naha nya asa tragis?? heuheu.. :D

    Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Add comment